Kisah Nyata Seorang Wanita yang Koma di Tanah Suci (Catatan Eko Putra) - Malangnya, ketika sampai di Rumah Sakit King Abdul Aziz, saya diberitahu oleh team dokter bahwa wanita tersebut masih berada dalam keadaan koma. Namun demikian, kata dokter, keadaannya masih stabil. Melihat kondisi tersebut, maka saya mengambil keputusan untuk menunggunya di rumah sakit. Setelah dua hari menunggu, wanita tersebut akhirnya membuka matanya. Dari sudut matanya yang mulai terlihat terbuka sedikit itu, wanita itu memandang ke arah saya. Tapi begitu wanita itu memandang wajah saya, tiba-tiba wanita tersebut terus memeluk saya dengan erat sambil mulai menangis terisak- isak.
Maka sayapun terkejut karena saya ini bukanlah mahramnya. Apalagi pada saat dia tiba-tiba menangis??
Sesaat kemudian saya mulai beranikan diri untuk bertanya kepada wanita pingsan yang baru tersadar itu, "Mengapa anda menangis?" “Ustadz….saya taubat dah Ustadz. Saya menyesal, saya berjanji tidak akan berbuat hal buruk lagi. Saya bertaubat ustadz, betul-betul taubat."
"Lalu kenapa anda tiba-tiba saja ingin bertaubat?" tanya saya yang masih dalam keheranan.
Wanita itu terus saja menangis terisak-isak, tanpa menjawab pertanyaan yang saya ajukan tersebut.
Sedetik kemudian diapun mulai bersuara, bercerita kepada saya mengapa dia berkelakuan demikian, cerita yang bagi saya pribadi perlu diambil iktibar dan hikmahnya oleh kita semua. Katanya, "Ustadz, saya ini sudah berumah tangga, menikah dengan lelaki kulit putih. Tapi Saya ini cuma Islam pada nama dan juga islam hanya karena keturunan saja.
Ibadah satu apa pun tidak pernah saya jalani. Saya tidak shalat, tidak puasa. Semua amalan ibadah tidak ada yang saya dan suami saya jalani. Rumah saya penuh dengan botol minuman keras. Suami saya itu sering saya tendangi, dan saya pun sering pula dipukulnya juga," katanya tersedu-sedu.
"Jadi kenapa anda memiliki keinginan untuk berhaji dengan keadaan seperti ini?"
"Iyalah...saya melihat orang pergi haji, maka sayajuga ingin melakukan pergi haji."
"Jadi, apakah gerangan yang membuat anda menangis hingga seperti ini? Apakah ada yang anda alami ketika anda sakit?" tanya saya lagi. Dengan suara yang tersekat-sekat, wanita tersebut mulai menceritakan,
"Ustadz...Allah itu Maha Besar, Maha Kaya, Maha Agung. Sewaktu saya dalam keadaan koma itu, saya telah diazab dengan siksaan yang benar-benar pedih atas segala kesalahan yang telah saya lakukan selama ini.
"Benarkah itu?" tanya saya, terkejut.
"Benar Ustadz. Semasa koma itu, saya telah ditunjukkan oleh Allah mengenai balasan yang Allah berikan kepada saya. Balasan azab Ustadz, bukan balasan surga.
Saya merasakan sepertinya saya telah diazab di neraka. Saya ini seumur hidup tidak pernah memakai jilbab. Maka sebagai balasannya, rambut saya ini ditarik-tarik dengan bara api.
Sakitnya tidak bisa terkatakan karena sangking pedihnya. Sayapun menjerit-jerit meminta ampun dan meminta maaf kepada Allah."
"Bukan hanya itu saja, buah dada saya pun diikat dan dijepit dengan menggunakan penjepit yang bahannya terbuat daripada bara api, lalu ditarik ke sana-sini...putus, kemudian jatuh ke dalam api neraka.
Buah dada saya terasa terbakar, panasnya tidak dapat dibayangkan. Saya menjerit, menangis kesakitan. Lalu saya coba masukkan tangan ke dalam api itu dan saya ambil buah dada itu kembali."
Wanita itu terus bercerita tanpa sedikitpun memperhatikan bahwa perawat2 dan pasien lain pun sedang ikut mendengarkan.
Tambahnya lagi, setiap hari dia disiksa, siksaan ini tiada henti, 24 jam sehari.
Dia tidak diberi kesematan untuk istirahat atau dilepaskan dari hukuman. Selama wanita itu koma, maka waktu yang dilaluinya adalah waktu dengan azab yang amat pedih. Dengan suara terisak-isak, dengan air mata yang semakin banyak mengalir, wanita itu pun meneruskan ceritanya,
"Hari-hari saya selalu disiksa. Ketika rambut saya ini ditarik dengan bara api, maka terasa sakitnya seperti kulit yang tercabut dari kepala. Panasnya pun seperti menyebabkan otak saya seperti terasa menggelegar. Azab itu teramat pedih.. sangat pedih sekali.. tak bisa diceritakan karena rasa yang sangking pedihnya."
Sambil bercerita, wanita tersebut terus saja meraung, dan terus menangis terisak-isak. Dari sikapnya itu, maka nyatalah dia memang benar-benar sangat menyesal dengan segala kesalahannya dahulu.
Sayapun tertegun, kaget dan badan ini menggigil mendengar ceritanya. Ternyata seperti itulah balasan yang Allah berikan kepada umatnya yang ingkar.
"Ustadz...saya ini Islam hanya namanya saja, tapi saya minum minuman keras, saya bermain judi dan macam-macam dosa besar. Karena saya suka minum dan makan segala yang diharamkan Allah, maka sewaktu dalam kondisi koma itu saya telah diberi makanan buah-buahan yang memiliki duri tajam. Tidak ada isi pada buah tersebut melainkan hanya duri-duri saja, namun saya tetap harus memakan buah-buah itu karena memang perut saya terasa sangat lapar.
"Ketika buah-buah tersebut ditelan, maka duri-durinya terasa menikam kerongkongan saya dan ketika sampai ke perut, maka buah-buah tersebut menikam isi perut saya juga. Sementara jari yang tertusuk jarum pun terasa sakit, apalagi ini duri-duri besar yang menusuk kerongkongan dan perut kita. Setelah buah itu habis dimakan oleh saya, kemudian saya diberi makan berupa bara-bara api.
Ketika saya coba masukkan bara api tersebut ke dalam mulut, maka seluruh badan ini terasa seperti hangus terbakar. Rasa panasnya hanya Allah saja yang tahu. Api yang ada di dunia ini tidak ada apa-apanya apabila dibandingkan dengan panasannya api tadi.
Posting Komentar